Hari Lingkungan Hidup 2019 : 13 Fakta Pencemaran Udara Global yang Mengkhawatirkan

Hari Lingkungan Hidup 2019 : 13 Fakta Pencemaran Udara Global yang Mengkhawatirkan

Mungkin banyak orang di negara-negara muslim terutama di kawasan Asia yang tidak sadar, bahwa Hari Idul Fitri pada Rabu, 5 Juni 2019 bertepatan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup (HLH) sedunia.

Umat muslim mungkin lebih terkonsentrasi untuk merayakan lebaran setelah berpuasa selama 30 hari penuh, dibandingkan memperingati HLH.

baca : Habiskan Makanan Lebaran, Biar Tak Jadi Masalah Lingkungan

Setelah diinisiasi pada Sidang Umum pada 1972, PBB mulai merayakan HLH sejak 1974 dengan tujuan untuk mendorong kesadaran dan aksi dunia untuk melindungi lingkungan bumi. Saat ini kampanye HLH sedunia telah dirayakan di lebih dari 100 negara.

Untuk tahun 2019, Hari Lingkungan Hidup Sedunia mengambil tema “polusi udara” dengan tuan rumah penyelenggaraan adalah Tiongkok.

Tema gerakan #beatAirPollution diambil karena berbagai jenis polusi udara global yang makin mengkhawatirkan dan mempengaruhi kesehatan umat manusia dan kondisilingkungan global.

PBB mencatat ada 6 penyebab utama polusi udara global yang mengakibatkan pemanasan global dan akhirnya menjadikan krisis iklim yaitu aktivitas rumah tangga, industri, transportasi, pertanian, limbah dan penyebab lainnya. Saat ini, tidak ada orang yang bersih alias selamat dari polusi udara global.

baca juga : Hari Lingkungan Sedunia: Penanganan Polusi Udara Harus jadi Prioritas

PLTU batubara dampak penurunan kualitas kesehatan masyarakat baik karena debu maupun asap pembakaran batubara yang mengandung logam berat dan beracun. Foto: Tommy Apriando/ Mongabay Indonesia

Berikut fakta-fakta tentang polusi udara global terkait dengan perubahan iklim :

  1. PBB menyatakan 9 dari 10 orang sekarang menghirup udara yang tercemar. WHO menyatakan hal ini menyebabkan krisis kesehatan global dengan 7 juta kematian orang per tahun.
  1. Polusi udara membunuh 800 orang setiap jam atau 13 orang setiap menit. Jumlah itu 3x lebih banyak dibandingkan kematian akibat malaria, tuberkulosis, dan AIDS yang digabungkan setiap tahun.
  1. Lima sumber utama pencemaran udara adalah (1) pembakaran bahan bakar fosil di dalam ruangan, kayu dan biomassa lainnya untuk memasak, memanaskan dan menyalakan rumah; (2) industri termasuk pembangkit listrik seperti pembangkit listrik tenaga batu bara dan generator diesel; (3) transportasi terutama kendaraan dengan mesin diesel; (4) pertanian terutama peternakan yang menghasilkan metana dan amonia, sawah, yang menghasilkan metana, dan pembakaran limbah pertanian; dan (5) pembakaran sampah terbuka dan sampah organik di tempat pembuangan sampah.
  1. Sejumlah polutan global dan lokal itu termasuk karbon hitam atau jelaga, dihasilkan karena sistem pembakaran yang tidak efisien dari sumber seperti kompor, mesin diesel dan metana. Sebanyak 97 dari 193 negara di dunia telah meningkatkan lebih dari85 persen rumah tangga yang memiliki akses ke bahan bakar bersih hingga lebih dari 85 persen. Namun, 3 miliar orang masih terus menggunakan bahan bakar kotor.
  1. Polusi udara dari sektor rumah tangga menyebabkan sekitar 3,8 juta kematian dini setiap tahun. Sebagian besar terjadi di negara berkembang, dan sekitar 60% dari kematian itu terjadi pada perempuan dan anak-anak.
  1. 93% anak-anak di seluruh dunia tinggal di daerah-daerah di mana polusi udara melebihi pedoman WHO, dengan 600.000 anak di bawah 15 tahun meninggal akibat infeksi saluran pernapasan pada tahun 2016.
Tata kelola hutan dan lahan (gambut) buruk menciptakan bencana, seperti asap dampak kebakaran hutan dan lahan. Keseriusan dan kebulatan pandang pemerntah penting dalam perbaikan tata kelola demi hindari bencana lebih parah. Foto: Greenpeace/Mongabay Indonesia
  1. Polusi udara bertanggung jawab atas 26% kematian akibat penyakit jantung iskemik, 24% kematian akibat stroke, 43% akibat penyakit paru obstruktif kronis dan 29% akibat kanker paru-paru. Pada anak-anak, polusiudara terkait dengan berat badan lahir rendah, asma, kanker pada masa kanak-kanak, obesitas, perkembangan paru-paru yang buruk dan autisme.
  1. 97% kota di negara berpenghasilan rendah dan menengah dengan lebih dari 100.000 penduduk, tidak memenuhi tingkat kualitas udara minimum WHO, dan di negara berpenghasilan tinggi, 29% kota tidak memenuhi panduan WHO.
  1. Sekitar 25% polusi udara sekitar perkotaan dari partikel halus berasal dari sektor transportasi, 20% oleh pembakaran bahan bakar domestik dan 15% oleh kegiatan industri termasuk pembangkit listrik. Saat ini, 82 dari 193 negara memiliki insentif yang mempromosikan investasi dalam produksi energi terbarukan, produksi bersih, efisiensi energi, dan pengendalian polusi.
Kabut asap menyelimuti Jakarta, Kamis pagi (29/10/15). Belum jelas kabut asap cukup pekat ini, apakah dari Jawa. Namun, BNPB menyatakan, asap dari Kalimantan dan Sumatera sudah berkurang hingga tak sampai ke Jakarta dan sekitar. Foto: Sapariah Saturi/Mongabay Indonesia
  1. Pertanian dan peternakan global menghasilkan emisi metana dan amonia. Metana merupakan gas pemanasan global yang lebih kuat daripada karbon dioksida – dampaknya 34 kali lebih besar selama periode 100 tahun.
  1. Pembakaran limbah terbuka dan limbah organik di tempat pembuangan sampah melepaskan dioxin, furan, metana, dan partikel halus berbahaya seperti karbon hitam ke atmosfer. Secara global, sekitar 40 persen limbah dibakar secara terbuka. Pembakaran terbuka limbah pertanian dan sampah perkotaan dilakukan di 166 dari 193 negara.
  1. Menjaga agar pemanasan global “jauh di bawah” 2 derajat Celcius, seperti diamanatkan dalam Perjanjian Paris 2015, dapat menyelamatkan sekitar 1.000.000 jiwa per tahun pada 2050 melalui pengurangan polusi udara saja.
  1. Sebanyak 15 negara emiter gas penyebab pemanasan global. Biaya kesehatan akibat polusi udara diperkirakan lebih dari 4% dari PDB. Sebagai perbandingan, menjaga pemanasan hingga batas suhu Perjanjian Paris 2015 akan membutuhkan investasi sekitar 1% dari PDB global.
Aktivis GAAs Kalteng membagikan masker dan mengedukasi anak-anak tentang bahaya kabut asap karhutla di desa-desa pinggir Kota Palangkaraya. Upaya ini mereka lakukan sejak akhir September hingga sekarang. Sementara layanan kesehatan sangat minim di desa terdampak kabut asap. Foto: Lina A. Karolina/Mongabay Indonesia

Sumber : UN Environment, WHO, Bank Dunia, kampanye Every Breath Matters, Thomson Reuters Foundation

Share this post

Post Comment